Namun ketika musim kemarau seperti saat ini, kontur tanah di Bojonegoro yang masuk dalam tanah gerak, membuat paving yang sudah ditata rapi di badan jalan menjadi merekah. Bahkan, ada beberapa yang terlepas. Akibatnya bisa membuat celaka pengguna jalan.
Salah satu korban dari paving, Muhyin mengaku sekitar seminggu lalu ketika berangkat bekerja di wilayah Kecamatan Gayam terjatuh ketika menabrak paving yang mencuat.
"Pagi itu sekitar pukul setengah 7 di Gayam nggak tahu kalau ada paving yang lepas di jalan. Akhirnya jatuh karena selip waktu nabrak paving itu," ungkapnya.
Akibat dari kecelakaan itu, tulang selangka yang ada di dekat lehernya retak dan harus dioperasi. "Takut kalau dioperasi, saya bawa ke sangkal putung," imbuhnya.
Korban lainnya di wilayah Kecamatan Kapas, seorang ibu yang memboncengkan dua anaknya terjatuh pada saat melewati paving yang tidak rata dan menabrak paving yang lepas. " Dua anak saya juga ikut jatuh di paving. Nggak parah, tapi ya sakit semua. Kemudian saya ajak ikut pijat sekalian," terang ibu dari 4 putra itu.
Sementara itu, di beberapa desa seperti di wilayah Kecamatan Kapas dan Balen banyak dijumpai warga yang gotong royong untuk memperbaiki paving yang ada di lingkungan mereka.
Seperti di Desa Semenpinggir, Kecamatan Kapas misalnya, beberapa ruas jalan paving mulai dibongkar dan ditata kembali dengan ditambah pasir. Tampak warga kerja bakti, ada yang pagi hari, sore bahkan sampai malam hari dengan penerangan dari lampu.
"Hampir merata di berbagai desa, jalan-jalan paving juga mulai diperbaiki dengan gotong royong dari lingkungan masing-masing agar lebih nyaman dilewati dan tidak menimbulkan korban jatuh akibat paving yang tidak rata atau paving yang lepas," papar ketua RT 02 Desa Semenpinggir, Mat Wakhid. [ito/lis ]